A Complicated Love Story [Chapter 10]

A Complicated Love Story 2

Dreaming Girl Present you…

Poster by flamintskle @ Poster Channel

A COMPLICATED LOVE STORY

Title A Complicated Love Story – Author Dreaming Girl – Leght Chaptered – Rating Teen – Summary Terkadang, kita harus menutupi semuanya demi kehidupan kita – Disclaimer I only own the story

Starring LOVELYZ’s Yein || BTS’s Jungkook || SONAMOO’s Minjae  || BTS’s Jin

Romance – Sad – Hurt – School live – Family – Angst – Friendship – AU

“Sometimes, we have to cover it all for our live…”

Previous Story : Teaser || Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4 || Chapter 5 || Chapter 6 || Chapter 7 || Chapter 8 || Chapter 9 :

Jungkook mendekat ke arah Yein, ia menarik lengan yeoja itu agar posisi keduanya semakin dekat. Jungkook dapat merasakan napas Yein yang menderu. Pipi Yein memerah, “A… apa yang akan kau lakukan?”

Jungkook tak menjawab, ia tetap menatap Yein dalam. Lalu ia menangkupkan satu tangannya di satu pipi Yein, lalu ia tersenyum tipis. “Yein-ah…”

“N-ne?”

Jungkook semakin mendekatkan posisinya kepada Yein, lalu ia berujar. “Saranghae…”

Sebelum Yein sempat menjawab, posisi mereka semakin dekat. Tak lama kemudian, bibir keduanya bertemu.

Jungkook melepaskan bibirnya dan bibir Yein, ia lalu memandang Yein dengan perasaan canggung. “A-ah, mian.”

Pipi Yein memerah, ia menunduk. “Ne, gwaechanayeo.”

“Ah, sudah saatnya untuk masuk kelas. Ayolah, kita harus masuk.” Ajak Jungkook sambil berdiri dan mengulurkan tangannya ke arah Yein, Yein menyambut uluran tangan Jungkook. Keduanya lalu segera meninggalkan rooftop.

~~~

 “Gwaechana?” Tanya Seokjin.

Minjae hanya mengangguk pelan, “Gwaechana.”

Seokjin menatap Minjae heran. Ia tahu bahwa terjadi sesuatu pada Minjae, tapi apa itu? Seokjin menghela napas, lalu ia duduk di samping Minjae. “Ada apa denganmu?”

Mwo?”

“Aku tahu sesuatu terjadi padamu.”

Ani!”

“Bohong!” Seru Seokjin sambil menatap Minjae. “Kau kenapa? Jungkook sudah menjadi lebih baik, Yein sudah pulih kembali. Tapi sikapmu sama sekali tidak menunjukan bahwa kau bahagia. Ceritakan saja, Lee Minjae.”

“Aku… aku melihat sesuatu.” Jeda sebentar, Minjae menghela napas pelan. “Aku senang Yein bahagia bersama Jungkook. Tapi… entahlah, aku merasa ada yang aneh pada diriku. Kurasa, aku…”

“Cemburu?”

Minjae menatap Seokjin, lalu ia mengangkat bahu. “Molla.”

Seokjin menghela napas, “Itu wajar. Kau pernah mencintai Jungkook, atau mungkin kau masih mencintainya, Jungkook juga pernah mencintaimu. Kalian pernah bersama. Biarpun kau berkata bahwa kau sudah tak mencintainya lagi, kau pasti akan merasa cemburu jika ia bersama yeoja lain.”

Minjae menunduk, perkataan Seokjin memang benar. Ia melihat Jungkook mencium Yein, hatinya terasa sakit. Sekali lagi, ia harus tersakiti karena Jungkook.

“Tapi, persahabatan lebih penting daripada cinta.” Kilah Minjae, mencoba untuk menguatkan dirinya sendiri.

“Aku tahu, itu memang benar. Tapi jika kau memang tak sanggup, kau seharusnya tak melakukan ini. Itu malah akan menyakiti dirimu sendiri, biarpun kau mencoba untuk tegar berkali-kali.” Ujar Seokjin pelan.

Minjae menggigit bibir. “Cinta memang rumit.”

“Itu benar.”

Minjae menghela napas, lalu ia berdiri. “Aku harus pergi. Kau tidak keberatan, bukan?”

“Tentu.”

Minjae tersenyum, lalu ia berjalan hendak meninggalkan Seokjin. Namun, ia menghentikan langkahnya dan berbalik. Minjae menatap Seokjin gugup, “Oh ya, te-terima kasih.”

“Untuk apa?” Tanya Seokjin bingung.

Minjae bergumam sebentar, “Untuk… untuk segalanya. Aku… maksudku, terima kasih karena telah menemaniku. Dan juga mendengarkanku, maaf jika aku merepotkan.”

Seokjin tersenyum, lalu ia mengangguk. “Bukan masalah dan… kau sama sekali tidak merepotkan.”

Minjae tersenyum canggung, ia berbalik dan melanjutkan langkahnya kembali. Diam-diam, ia merasakan bahwa pipinya memerah.

~~~

“Kau akan pergi kemana?” Tanya Jungkook ketika melihat Yein begitu terburu-buru, Yein menggigit bibir.

“Kemoterapi.”

Jungkook mengangguk mengerti, “Mau kuantar?”

Yein terdiam. Sejujurnya, ia masih merasa canggung berada di dekat Jungkook setelah namja itu menciumnya tadi, tetapi ia tidak ingin mengecewakan hati Jungkook. Ia menunduk, mencoba mencari-cari alasan untuk tidak pergi bersama Jungkook. Untunglah, Minjae menyelamatkannya saat itu.

“Yein-ah! Kau akan pergi untuk kemoterapi, bukan? Mau pergi bersama?” Tanya Minjae ceria sambil menepuk bahu Yein. Senyuman cerah dari bibir yeoja itu memudar ketika ia melihat Jungkook, Minjae menatap Jungkook canggung.

“A-ah, kau akan pergi dengan Jungkook, ya?” Tanya Minjae dengan nada sedikit kecewa.

Yein mendongak dan menatap Minjae dan Jungkook bergantian. “Aku ingin pergi dengan Minjae. Apa kau tidak keberatan… Jungkook-ah?”

Jungkook menghela napas, lalu ia mengangguk. “Gwaechana.”

“Tapi, jika kalian memang ingin bersama, aku bisa pulang sendiri. Tidak usah memaksakan diri kalian.” Kilah Minjae, Jungkook menggeleng.

“Pulang saja.”

Yein akhirnya mengangguk dan tersenyum, lalu ia menarik lengan Minjae tanpa mengucapkan apapun pada Jungkook. Minjae hanya mengikuti Yein. Selama perjalanan menuju rumah sakit, keduanya hanya diam.

“Apa aku merusak kedekatan kalian?” Tanya Minjae tiba-tiba.

Yein tersentak, “Eh, mwo? Tentu saja tidak.”

“Jungkook tidak kelihatan begitu senang.” Gumam Minjae, “Dan sepertinya kau agak keberatan pergi bersamaku.”

Ne? Anio, Minjae-ya! Mana mungkin aku merasa keberatan pergi dengan sahabatku sendiri!” Kilah Yein, setengah membentak. Hal itu membuat Minjae terdiam.

“Ah, ne.”

Setelah itu, keduanya diam kembali. Tidak ada percakapan. Baik Yein dan Minjae merasa sedikit bersalah satu sama lain. Bagaimana mungkin Minjae berprasangka buruk dengan sahabatnya sendiri? Dan bagaimana mungkin Yein hampir membentak sahabatnya sendiri?

Yein membuka mulutnya, tetapi lidahnya terasa kelu. Entah mengapa, ia merasa bersalah melihat Minjae yang sedari tadi hanya duduk diam. Minjae bukan tipe orang yang seperti itu. Minjae memang selalu tenang dan diam, tapi ketenangan yang dibuat Minjae kali ini membuat Yein merasa tidak nyaman. Sebelum ia sempat mengucapkan sepatah kata pun, bus yang mereka tumpangi telah berhenti.

Kajja, kita turun.” Ajak Minjae sambil tersenyum, Yein balas tersenyum. Kedua turun dari bus dan masuk ke dalam gedung rumah sakit.

“Kau akan menungguiku?” Tanya Yein, ketika ia sampai di ruang praktek dokternya. Minjae mengangguk.

“Tentu.”

“Baiklah.”

Yein membuka pintu ruang praktek tersebut, lalu ia masuk ke dalamnya. Lee Eusanim, dokter langannya, sudah menunggu di dalam ruangan tersebut. Sementara Minjae, untuk beberapa lama ia hanya bisa berdiam diri dan menunggu Yein.

~~~

From : Jeon Jungkook
To : Lee Minjae

Apa kau sibuk? Jika tidak, aku tunggu kau di taman kota pukul delapan.

Minjae membaca isi pesan yang dikirimkan Jungkook dengan heran, apa lagi sekarang? Hubungannya dan Yein mulai memburuk, sementara ia tersakiti melihat Jungkook bersama Yein, dan sekarang namja itu ingin menemuinya. Apa yang harus ia lakukan?

From : Lee Minjae
To : Jeon Jungkook

Tidak. Aku tidak sibuk. Aku akan datang ke taman kota segera.

Jika tidak dihadapi, masalahnya tidak akan selesai, batin Minjae. Ia bersiap-siap untuk menemui Jungkook, dengan sedikit malas, ia melangkahkan kakinya keluar dari rumah.

Pukul delapan lewat sepuluh menit, Minjae baru sampai di taman kota. Suasana taman kota saat itu sangat sepi, terlalu sepi bagi Minjae yang datang sendiri. Beruntung, ia segera menemukan Jungkook.

“Jungkook-ah,” Panggil Minjae pelan, “Apa aku terlambat?”

Jungkook menoleh dan beranjak dari posisinya yang menyandar di dinding, ia menggeleng. “Tidak.”

Jungkook berjalan ke arah Minjae, kini posisi keduanya saling berhadapan. Selama beberapa detik, mereka sama sekali tidak bersuara. Baik Minjae dan Jungkook membenci keadaan ini, mereka benci ketika kecanggungan menyelimuti mereka.

Jeoseonghamnida,” Minjae yang memulai.

Jungkook mengerutkan kening ketika mendengar cara bicara Minjae yang terdengar aneh, terlalu formal. “Ne?”

“Apa yang ingin kau bicarakan?” Tanya Minjae.

Jungkook menghela napas pelan, “Mianhe.”

Mwo?”

“Maafkan aku karena… karena aku telah melukaimu. Lagi. Aku tidak tahu mengapa, tapi sepertinya aku memiliki banyak dosa padamu.” Ujar Jungkook, rasanya berat sekali mengucapkan hal itu. Sementara Minjae hanya menatapnya dengan pandangan kosong, hal itu membuat hati Jungkook terasa seperti teriris.

Gwaechana.” Balas Minjae akhirnya. Tak ada pilihan lain, jika ia mencoba untuk melawan takdir, ia malah akan menyakiti orang lain. Minjae menarik kedua ujung bibirnya, memberikan senyuman tipis yang susah payah ia buat.

“Jangan tersenyum jika kau terpaksa.” Kilah Jungkook yang menangkap arti dari senyum Minjae.

“Aku senang karena hubunganmu dan Yein semakin baik. Jadi… tidak ada yang perlu dipermasalahkan lagi. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana caramu menjaga Yein, aku harap kau dapat menjaganya dengan baik.” Ujar Minjae, masih dengan senyuman di bibirnya.

Mianhe. Maafkan aku, aku benar-benar minta maaf.” Ujar Jungkook pelan sambil menunduk.

Minjae menghela napas berat, “Begini, Jungkook-ah. Kata maaf adalah kata tersulit yang dapat dikeluarkan oleh orang-orang di dunia, termasuk diriku. Meminta maaf kepada orang lain itu memalukan, tetapi meminta maaf pada diri sendiri itu lebih memalukan dan juga-” Jeda sebentara di antara keduanya, Jungkook menggigit bibir kala menunggu Minjae melanjutkan kata-katanya.

“-menyakitkan.”

Jungkook mendongak, menatap Minjae dengan perasaan bingung. “Apa maksudmu?”

“Meminta maaflah pada dirimu sendiri.” Suruh Minjae, Jungkook mengerutkan kening. “Y-ya, meminta maaflah pada dirimu sendiri, Jeon Jungkook. Kau sudah meminta maaf kepadaku, kepada Yein dan kepada Seokjin. Tetapi, kau belum meminta maaf kepada dirimu sendiri.”

Ne? Tapi, mengapa?” Tanya Jungkook bingung.

“Karena kau menyakiti dirimu sendiri.” Jawab Minjae, lalu ia terdiam untuk beberapa saat. “Kau menyakiti dirimu sendiri, Jungkook-ah. Kau membuat dirimu menjadi semakin terpuruk akan kebenaran, itu tidak baik. Meminta maaflah pada dirimu sendiri.”

“Tapi, bagaimana caranya?” Tanya Jungkook lagi.

“Pikirkan itu sendiri.” Minjae menghela napas berat, ia menegakan tubuhnya dan berjalan meninggalkan Jungkook. Ia sudah tak mampu lagi menatap mata Jungkook, hatinya terasa sakit.

Minjae berjalan meninggalkan Jungkook dengan berat hati. Ia menyebrang untuk sampai di sisi jalan lainnya dan ketika ia sampai di tengah jalan, ia berbalik dan menatap Jungkook sendu.

Mian…”

BRAK!

“Lee Minjae!”

-TBC-

Halo 🙂

Maafkan aku karena lamaaaaaaa banget nge-post Chapter ini, sumpah aku bingung banget mau naruh TBC dimana. Dan, sepertinya Chapter berikutnya adalah END, sepertinya lho, belum tentu bener.

Selain itu, maafkan aku karena menistakan Minjae disini. SONAMOO kan udah mau comeback, jadi Minjae dinistain dikit gakpapalah /apa sih/ tapi kayaknya Minjae dan Yein sama-sama udah sering dinistain hehehe 😛

Ngomong-ngomong, diriku lagi kehilangan mood buat nulis ACLS karena bosen nungguing LOVELYZ comeback. Woollim, kapan LOVELYZ bakalan comeback?! Tapi it’s okay-lah, soalnya ada Infinite yang lagi comeback. Tapi, cepet-cepet comeback-nya ya LOVELYZ hehehe…

By the way, maaf jadi curcol begini hahaha ^^. Ditunggu koemn & like-nya ya 😉

Advertisements

Your comment is my Dream

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s