A Complicated Love Story [Chapter 8]

A Complicated Love Story 2

Dreaming Girl Present you…

Poster by flamintskle @ Poster Channel

A COMPLICATED LOVE STORY

Title A Complicated Love Story – Author Dreaming Girl – Leght Chaptered – Rating Teen – Summary Terkadang, kita harus menutupi semuanya demi kehidupan kita – Disclaimer I only own the story

Starring LOVELYZ’s Yein || BTS’s Jungkook || SONAMOO’s Minjae || BTS’s Jin

Romance – Sad – Hurt – School live – Family – Angst – Friendship – AU

“Sometimes, we have to cover it all for our live…”

Previous Story : Teaser || Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4 || Chapter 5 || Chapter 6 || Chapter 7 :

“Aku tidak mencintai Minjae lagi! Aku mencintai Yein, aku mencintainya!” Seru Jungkook. Seokjin menggeram, “Jadi kau mempermainkan Minjae?”

“Aku bilang, aku tidak mencintainya lagi. Aku sudah tidak mencintainya sejak Yein koma. Jadi jika aku bersikap seperti aku mencintainya, itu berarti aku…” Ucapan Jungkook terputus.

“Mempermainkanku?”

Seokjin melepaskan cengkramannya dan menoleh, ditatapnya si pemilik suara yang sudah berdiri di belakang mereka berdua. Nafas Jungkook tercekat, ia menatap yeoja itu gugup.

“M-Minjae?”

“A-aku tidak…”

“Sudahlah, aku sudah mengerti. Lagipula, aku merasa sangat senang jika Yein bahagia. Jika kau memang benar-benar mencintai Yein, kau harus mencintainya dengan tulus.” Kilah Minjae.

Mwo?”

“Ah, aku harus pergi. Sampai jumpa dan… jangan bertengkar lagi, ara?” Ujar Minjae, lalu ia meninggalkan Jungkook dan Seokjin.

Seokjin mengalihkan pandangannya ke arah Jungkook, ia menatap namja itu tajam. “Jangan pernah mempermainkan Yein dan Minjae lagi.”

~~~

“Boleh aku minta waktumu sebentar, Yein-ah?” Tanya Minjae ketika waktu pulang sekolah telah tiba.

Yein mengangguk sambil berdiri dari tempat duduknya, ia tersenyum ke arah Minjae. “Tentu. Kajja, kita sambil berjalan saja.”

Minjae hanya mengangguk, ia dan Yein segara berjalan keluar dari kelas. “Jadi, Minjae-ya, apa yang ingin kau bicarakan?”

“Aku hanya ingin bertanya, kukira Jungkook berkata padamu bahwa ia menyukaimu. Apakah kalian berdua berkencan?” Tanya Minjae sedikit gugup, Yein menggeleng santai. “Ani, kami tidak berkencan.”

Jinjja?”

Ne. Memangnya, ada apa?”

Anio, aku hanya bertanya.”

Untuk bebrapa saat, keduanya terdiam. Bahkan ketika keduanya telah sampai di depan rumah Yein, mereka berdua tak bicara.

“Ah, terima kasih karena telah menemaniku, Minjae-ya. Kau mau masuk dulu?” Tanya Yein, tapi Minjae menggeleng. “Tidak usah. Aku harus pergi, anyeong.”

Yein melambaikan tangannya ke arah Minjae, lalu ia segera masuk ke dalam rumahnya.

“Nona muda, seseorang mengirimkan surat dan paket ini untuk Nona.” Ujar seorang pelayan kepada Yein sambil menyerahkan sebuah kotak berwarna biru dengan surat kepada Yein, Yein menerimanya dengan heran.

“Ah, arasseo. Ghamsahamnida.” Ujar Yein sambil membungkuk, pelayan itu ikut membungkuk. Yein segera berjalan menuju kamarnya dengan perasaan heran.

Yein membuka kotak itu di kamar. Ia sangat terkejut ketika melihat isi kotak tersebut, sebuah gaun dan… topeng?

“Memangnya, akan diadakan acara apa? Dan siapa pengirim yang begitu baik hati ini?” Batin Yein. Ia melirik ke arah sebuah amplop yang terselip di kotak itu, ia segera membukanya dan membaca surat yang ada di dalamnya.

Pakai gaun dan topeng ini untuk pesta dansa sekolah sabtu nanti. Kau tak perlu khawatir untuk pasanganmu, seorang pangeran telah menunggumu – …

“Ah, ya, pesta dansa sekolah dengan tema pesta topeng. Seharusnya, aku tahu. Tapi siapa yang dimaksud dengan ‘pangeran’ ini?” Gumam Yein bingung.

Ia membaca surat itu berulang kali, lalu ia menliti kotak itu, memastikan tidak ada yang terlewat. Tetapi, ia tak menemukan nama pengirimnya. Yein mengangkat bahu, lalu memasukan gaun itu ke dalam kotaknya lagi. Ia meletakan kotak tersebut di meja belajarnya. “Yah, siapapun itu, ia sangat baik sekali.”

~~~

Minjae memasuki kamar Yein dengan sedikit tergesa-gesa. Ketika ia sudah sampai di dalam kamar sahabatnya itu, ia langsung merebahkan diri di ranjang. Yein mendelik, “Kau kenapa?”

Gwaechana. Aku hanya… ah, mungkin aku terlalu gugup. Ini pesta dansa pertamaku.” Jawab Minjae sambil menatap berkeliling kamar Yein.

“Santai saja, jangan terlalu tegang.” Gumam Yein, Minjae mengangguk pelan. “Kau pernah pergi ke pesta dansa sebelumnya?”

“Yah, beberapa kali. Nah, bagaimana penampilanku?” Tanya Yein sambil berbalik menuju ke arah Minjae, Minjae memandang sahabatnya tersebut sambil tersenyum. “Kau terlihat cantik.”

Jinjja? Ah, gomawo, Minjae-ya.” Ujar Yein sedikit tersipu, Minjae tersenyum tipis sambil mengangguk.

“Seharusnya, kau tidak perlu bertanay padaku. Kurasa kau memang sudah cantik tanpa harus mengenakan gaun itu.” Komentar Minjae, Yein menunduk malu. “Ah, biasa saja.”

“Ya sudah, ayo kita berangkat. Oh ya, kau sudah menemukan pasangan?” Tanya Minjae.

Yeine mengerutkan kening, lalu ia meraih kotak biru yang ia dapatkan beberapa hari yang lalu. “Seseorang mengirimkan ini padaku, ia yang memberikanku gaun beserta topeng dan surat. Coba lihat ini, isi surat ini sangat aneh.”

Minjae menerima amplop yang Yein berikan, ia membaca surat tersebut dengan perasaan heran. “Yah, mungkin memang ada ‘pangeran’ yang akan berdansa denganmu nanti, Yein-ah.” Canda Minjae, Yein mendorong bahu Minjae pelan.

“Berhentilah bercanda. Ayo pergi.”

~~~

Suasana aula sekolah Daeguk High School benar-benar ramai. Murid-murid yang dibalut dengan gaun dan jas yang indah serta topeng untuk menyamarkan wajah mereka memenuhi aula sekolah, iringan musik klasik pun ikut melengkapi suasana pesta dansa sekolah malam itu.

Yein berjalan dengan perasaan sedikit gugup. Ia sudah tak peduli lagi pada Minjae, yeoja itu hilang entah kemana. Biarpun Yein telah pergi ke pesta dansa beberapa kali, tetapi ia tetap tak pernah terbiasa oleh hal ini. Yein duduk di sofa yang disediakan, bermaksud menunggu Minjae atau siapapun itu. Dan mungkin, ia bisa menemukan ‘pangeran’-nya nanti.

Di tengah kesibukan Yein memandangi sekeliling aula sekolah, seorang namja yang tak ia kenali mengahampirinya. Namja yang dibalut jas putih dan topeng berwarna merah tersebut mengulurkan tangannya ke arah Yein sambil tersenyum. “Mau berdansa denganku, Nona Jeong?”

Yein terkesiap, ia menerima uluran tangan tersebut dan berdiri. Yein tersenyum, “Tentu.”

Yein dan namja yang tidak dikenalinya itu berjalan menuju lantai dansa, mereka berdansa mengikuti alunan musik klasik yang dimainkan.

“Kau terlihat cantik malam ini.” Bisik namja itu, Yein tersipu malu.

Neon nuguya?” Tanya Yein.

Namja itu mendekat dirinya ke arah Yein, menatap mata Yein dalam dari balik topengnya. Ia tersenyum tipis, “Rahasia.”

“Kau yang mengirimiku gaun dan topeng ini?” Tanya Yein, namja itu mengangguk. Yein tersenyum tipis, “Jeongmal ghamsahamnida.” Ujar Yein, Namja itu hanya tersenyum tipis sambil mengangguk.

“Jangan tanyakan siapa aku lagi, kau akan tahu nanti.”

~~~

“Bagaimana pesta dansa semalam?” Tanya Jungkook pada Yein.

“Menyenangkan. Apakah kau datang?” Balas Yein, Jungkook mengangguk. “Ne, aku datang.”

Jinjja? Aku tidak melihatmu, sungguh. Kau datang dengan siapa?” Tanya Yein.

Jungkook menghela napas dan menyunggingkan senyum tipis, “Sendiri.”

“Kau tidak berdansa?”

“Aku berdansa.”

Yein menatap Jungkook heran, “Dengan siapa?”

“Rahasia.”

Yein merengut kesal, “Aku berdansa dengan seseorang yang tidak kukenali. Dia memberikanku gaun dan topeng, romantis sekali, bukan?”

Jungkook mengangguk tak acuh, “Itu bagus. Sayang sekali, aku tidak melihatmu.” Ujar Jungkook, Yein mengangguk pelan. “Kukira, orang yang memberikanku gaun dan topeng itu sangat baik. Aku ingin sekali membalasnya, dengan apapun.” Gumam Yein, mata Jungkook bergerak untuk melirik Yein.

“Apapun?”

Ne, apapun. Karena dia sangat baik dan romantis, aku belum pernah mendapatkan perlakuan seperti itu dari orang lain selain dirinya. Jika ia tidak memberikan gaun dan topeng itu kepadaku, aku tidak akan bisa pergi ke pesta dansa. Siapapun itu, aku sangat berterima kasih kepadanya.” Ujar Yein, Jungkook mengangguk mengerti.

“Yah, aku berharap kau segera menemukan orang baik itu.”

~~~

Bruk!

“Aw…” Minjae mengerang kesakitan ketika seseorang menabraknya. Minjae mendongak dan menatap orang yang menabraknya itu dengan sedikit kesal, tetapi ekspresinya segera berubah.

“K-kau?”

Minjae menatap orang yang menabraknya itu dengan tatapan berang. Ia berdiri, hendak melanjutkan perjalanannya dan meninggalkan orang itu. Tetapi, orang itu meraih lengannya, memaksanya untuk tetap tinggal.

“Minjae-ya, tunggu dulu.” Ujar orang itu, Minjae hanya menghela napas sedikit kesal.

“Lepaskan aku!”

“Aku harus bicara.”

“Tidak ada yang perlu dibicarakan, Jeon Jungkook. Kau sudah bersama Yein, aku sudah senang. Aku harus pergi, ada yang perlu aku selesaikan.” Kilah Minjae sambil melepaskan genggaman tangan Jungkook, Jungkook menatap Minjae kesal.

“Kubilang, aku harus bicara.” Ujar Jungkook.

Minjae menggeleng, “Tidak usah, semuanya sudah jelas bagiku. Jangan sakiti Yein lagi, aku pergi.”

Minjae berjalan meninggalkan Jungkook. Tetapi Jungkook tak menyerah, ia menarik lengan Minjae agar yeoja itu berdiri tepat di hadapannya dan menatapnya. Ketika tatapan keduanya bertemu, Jungkook menghela napas panjang.

Mianhe.”

“Untuk apa kau meminta maaf?” Tanya Minjae sedikit terkejut. Jungkook jarang sekali mengucapkan kata ‘maaf’ di hadapannya. Sekalipun iya, hal itu mungkin tidak dikatakan setulus sekarang.

“Maafkan aku atas… atas semuanya. Dan semua perkataanku pada malam itu, aku tidak serius.” Jawab Jungkook sambil menunduk.

Minjae menatap Jungkook sendu, tatkala ia mengingat apa yang dikatakan Jungkook malam itu di depan Seokjin, yang disaksikan oleh kedua mata kepalanya sendiri.

Menyakitkan.

“Jangan meminta maaf kepadaku.” Ujar Minjae, Jungkook mendongak dan menatap Minjae heran. “Jika kau memang tidak serius dengan perkataanmu pada malam itu, aku bersyukur. Tapi jika kau memang mempermainkan aku dan Yein, jangan meminta maaf padaku. Minta maaflah pada Yein.”

Tangan Jungkook bergerak meraih lengan Minjae, ia mengenggam lengan yeoja itu sambil menggigit bibir. “Aku mencintai Yein, maafkan aku. Aku tidak mencintaimu lagi, sekali lagi maafkan aku. Aku tahu aku tidak pernah peka pada apapun, bahkan pada dirimu. Tetapi untuk kali ini, aku serius. Aku benar-benar mencintainya. Dan aku tidak bermaksud menyakitimu, maafkan aku, Minjae-ya.”

“Mencintai bukanlah hal yang salah, jadi kau tak perlu meminta maaf kepada siapapun. Aku bisa mengerti mengapa kau tidak pernah peka pada perasaanmu sendiri, tapi aku berharap kau tulus. Kau dan Yein, mungkin saling mencintai. Maka dari itu, jagalah ia baik-baik. Jangan sakiti hatinya lagi.” Setelah mengatakan semua itu, Minjae menatap Jungkook lemah. Ia menegakan tubuhnya, bermaksud untuk menguatkan dirinya sendiri.

Mencintai Jungkook bukanlah hal yang mudah, karena Jungkook belum mencintai atau dicintai sebelumnya. Kecuali oleh ibu kandungnya sendiri. Jungkook tak pernah peka akan apa yang Minjae butuhkan, apa yang Minjae inginkan, tidak seperti namja lain yang selalu memanjakan dan memenuhi semua keinginan pacarnya, Jungkook tak pernah seperti itu.

Ada dendam tersendiri di dalam hati Jungkook, Minjae tak bisa melakukan apapun selain menyalahkan kedua orang tuanya. Jungkook ditelantarkan setelah ibunya meninggal, hal itu membuat Jungkook merasa terisolasi. Minjae tahu bahwa yang tersakiti di sini bukan hanya dirinya, ia mencoba mengerti meskipun itu sangat sulit.

~~~

Yein tak pernah membenci dirinya sendiri. Mungkin ia sudah berkali-kali menyesali hidupnya yang terasa begitu sulit, tetapi ia tak pernah membenci dirinya sendiri. Walau bagaimanapun, Yein tahu bahwa membenci dirinya sendiri malah akan membuat ia semakin terpuruk akan kenyataan.

Yein tak pernah menyalahkan takdir yang telah membuatnya menderita karena Leukemia yang bersarang pada tubuhnya. Yein tak menyalahkan takdir yang telah membuatnya tersakiti karena Jungkook, Minjae atau Seokjin. Yein menyadari, jika bukan karena ikatan diantara mereka berempat, hidup Yein tidak akan lebih dari sekadar bayangan.

Yein dahulu hanya sebuah bayangan.

Ketika kecil, Yein hanyalah bayangan tanpa pribadi. Semua hal yang diinginkannya dipenuhi oleh orang lain, semua pekerjaannya dilakukan oleh orang lain. Sampai ketika ia mengetahui ada kanker yang bersarang pada dirinya, Yein menyadari bahwa ia harus berdiri sendiri. Berjuang melawan kanker tersebut, tanpa bantuan dari orang lain.

Disakiti dan dibenci oleh Jungkook membuatnya menjadi lebih kuat. Bersahabat dengan Minjae membuatnya jauh lebih tulus. Dan mencoba untuk mengerti tentang Seokjin membuatnya mengerti akan makna kerja keras. Yein tak pernah mengetahui hal itu sebelumnya.

Ya, gwaechana?”

Yein tersentak dari lamunan, mendapati Seokjin yang kini menatapnya dengan alis terangkat. Yein meringis dan mengangguk, “Gwaechana.”

Seokjin duduk di samping Yein sambil menghela napas, mengikuti arah pandang Yein yang lurus ke depan. “Aku melihatmu berdansa dengan seseorang pada pesta dansa kemarin.”

Yein mengangguk pelan, “Ne.”

“Siapa orang itu?”

Mollayeo.”

Seokjin menatap Yein heran, “Kau sungguh tak tahu? Apa kau tidak bisa mengenalinya dari topengnya?”

Yein menggeleng sambil mengangkat bahu, “Jinjja molla. Dia… dia sangat baik hati. Dia mengirimiku sebuah gaun dan juga topeng.”

Rasa penasaran semakin menguasai Seokjin, siapa namja itu sebenarnya? Seokjin tak tahu mengapa, tapi ia merasa sangat penasaran. “Yah, mungkin dia adalah ‘pangeran berkuda putih’-mu.”

Yein menatap Seokjin bingung dengan mulut sedikit terbuka, ia lalu tertawa sambil mendorong Seokjin pelan. “Mwo? Ya, aku tak percaya namja berandal seperti kau percaya dengan ‘pangeran berkuda putih.’ Serius, Kim Seokjin!”

Seokjin ikut tertawa, walaupun sangat kecil. Ia menghela napas dan menyandarkan dirinya di bangku yang ia dan dan Yein duduki, “Nado molla. Tapi, siapa yang tahu, mungkin ia seseorang yang menyukaimu atau semacamnya.”

Yein kembali tertawa, “Menyukai? Andwae! Tidak mungkin ada yang menyukaiku.”

“Kukira banyak yang menyukaimu. Kau ini putri kepala sekolah yang terkenal cantik, pintar dan baik hati. Jadi, jika memang ada yang menyukaimu, aku tidak heran.” Kilah Seokjin, Yein menggeleng tak percaya.

“Hentikan, Kim Seokjin.”

Seokjin akhirnya mengangguk pelan dan berhenti bicara. Keduanya diam untuk beberapa saat, membiarkan angin dingin sore itu melewati tubuh mereka. Baik Yein dan Seokjin sudah terbiasa dengan keadaan ini. Sejak saling bertemu, keduanya sudah menyadari bahwa mereka akan mendapatkan sesuatu yang sangat mengejutkan.

Terjebak di dalam labirin kehidupan, pertemanan dan cinta.

 “Bagaimana keadaanmu?” Seokjin yang memulai, Yein menghela napas pelan. “Gwaechana.”

“Dan Leukemia-mu, bagaimana perkembangannya?” Tanya Seokjin lagi.

Kali ini, Yein mengigit bibir, mencoba menahan tangis yang sudah siap keluar dari mulutnya. “Sudah lebih baik.”

Seokjin menangkap nada kekhawatiran dan ketakutan dari suara Yein yang bergetar. Ia melirik ke arah Yein, mendapati bahwa rambut yeoja itu lebih tipis dari sebelumnya. Itu berarti Yein telah menjalani kemoterpi, Seokjin bersyukur karenanya.

“Itu bagus.” Ujar Seokjin, Yein mengangguk pelan.

Selesai. Percakapan mereka selesai sampai disana. Setelah itu, keduanya larut kembali dalam pikiran masing-masing.

Yein menatap Seokjin canggung, lalu ia segera berdiri dari duduknya. “Ah, aku harus pergi. Kau tak keberatan jika aku meninggalkanmu, bukan?”

Seokjin menoleh dan menatap Yein datar, lalu ia mengangguk. “Pergilah.”

Yein tersenyum tipis, ia segera beranjak meninggalkan Seokjin. Namun, kepala Yein tiba-tiba terasa benar-benar sakit. Jantungnya berdebar-debar, napasnya terasa sesak dan lututnya melemas. Ia memejamkan matanya untuk mengurangi rasa sakit di kepalanya, tapi itu tak berhasil. Tubuh Yein terhuyung jatuh, ia mengerang pelan.

Appo…”

Seokjin beranjak dari duduknya, bermaksud untuk menyusul Yein. Tetapi, ia sangat terkejut ketika melihat yeoja itu terbaring tak sadarkan diri.

“Jeong Yein!”

~~~

Ponsel Jungkook bergetar, menandakan seseorang tengah menghubunginya. Jungkook mengangkatnya dengan malas, lalu ia segera berbicara. “Ya, halo?”

Air muka Jungkook berubah, menunjukan ekspresi khawatir dan terkejut. Tubuhnya bergetar, perasaannya tak menentu. Ia tak percaya dengan perkataan orang yang menghubunginya itu, “A… Andwae!”

Tubuh Jungkook jatuh terduduk, napasnya memburu dan wajahnya memerah. Bibirnya bergetar ketika mengucapkan kata terakhir sebelum ia jatuh pingsan.

“Jeong Yein…”

-TBC-

ROAD TO THE END!!!

Eh, mungkin sih #Plak!

Mungkin aja ACLS tinggal 2-3 Chapter lagi, mungkin aja tidak. Ngomong-ngomong, ini bisa dibilang fast update gak? ^^

Kurang panjang? Oke, maafkan diriku yah, sibuk dan kehabisan ide soalnya ><
Oh ya, kalau ada Typo, maaf ya 😉

Semoga suka ya, ditunggu komen & like-nya 🙂

Advertisements

Your comment is my Dream

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s