A Complicated Love Story [Chapter 6]

A Complicated Love Story 2

Dreaming Girl Present you…

Poster by flamintskle @ Poster Channel

A COMPLICATED LOVE STORY

Title A Complicated Love Story – Author Dreaming Girl – Leght Chaptered – Rating Teen – Summary Terkadang, kita harus menutupi semuanya demi kehidupan kita – Disclaimer I only own the story

Starring LOVELYZ’s Yein || BTS’s Jungkook || SONAMOO’s Minjae || BTS’s Jin

Romance – Sad – Hurt – School live – Family – Angst – Friendship – AU

“Sometimes, we have to cover it all for our live…”

Previous Story : Teaser || Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4 || Chapter 5

Palli, Jungkook-ah! Yein… Yein membutuhkanmu!”

Mwo?! Apa yang sesungguhnya terjadi? Katakan padaku, Palli!”

“Yein… Yein, dia…”

“Ne?”

“Yein koma….”

“Koma?”

Nafas Jungkook tercekat, Yein koma? Tunggu dulu, apakah Minjae sedang bercanda?

“Kau bercanda!” Seru Jungkook.

“Aku tidak bercanda! Cepat datang, kau harus bertemu dengannya.” Elak Minjae.

“Bagaimana mungkin aku bisa bertemu dengannya jika ia sedang koma!”

“Datang saja! Yein… Yein terus memanggil namamu.”

Jungkook memutus sambungan telpon, memasukan ponselnya ke dalam saku dan segera keluar dari kamar. Ia harus menemui Yein, sekarang juga!

~~~

“Jungkook-ah…”

Jungkook menghela napas ketika suara Yein masih terdengar. Ditatapnya tubuh yeoja itu yang terbaring tanpa daya di ranjang, Jungkook menundukan kepalanya. Sudah 2 jam ia duduk di samping ranjang Yein, menunggui yeoja itu agar bangun.

2 jam lalu, Jungkook sampai di rumah sakit dan mendengar kabar bahwa kondisi Yein sudah menjadi lebih baik. Jungkook dapat bernapas lega, mengingat Yein sempat dalam kondisi kritis tadi.

Sesungguhnya, Jungkook sendiri bingung mengapa hanya namanya yang terus terdengar dari bibir Yein. Apa yang Yein pikirkan sekarang? Apa yang ada di alam bawah sadar Yein sekarang? Apakah dirinya? Rasanya tak mungkin!

“Jungkook-ah…”

Lagi. Jungkook mendesah gelisah, ia tak suka melihat Yein seperti ini. Kapankah Yein akan bangun? Jungkook merasa bersalah, ia telah membentak dan membuat hati Yein terluka. Terutama ketika Jungkook mengingat apa yang dikatakan Yein kepadanya sepulang sekolah tadi dan juga, Yein menangis saat itu.

“Pergi!”

“Pergi, Jeon Jungkook. Pergi! Pergi dari kehidupanku, jangan pernah mencampuri urusanku lagi!”

Anio! Kau tidak salah dengar! Pergilah… hiks… tinggalkan aku sendiri.”

Jika telinga Jungkook tidak salah, maka benar bahwa Yein membencinya. Sungguh, Jungkook tak mengerti mengapa Yein bisa menjadi seperti ini. Apakah ini salahnya?

“Jungkook-ah?”

Jungkook menoleh saat pintu ruangan terbuka dan terdengar suara yang sangat ia kenali.

“Minjae-ya?”

“Ah, jadi kau sudah datang, ya? Mianhe, aku pergi untuk membeli makan siang. Ini untukmu, aku bawakan kau beberapa roti.” Ujar Minjae sambil menutup pintu dan menyodorkan beberapa kantung berisi roti kepada Jungkook. Ia lalu duduk di sofa.

Jungkook menerimanya dengan malas dan meletakannya di meja tanpa menyentuhnya lagi. “Tidak makan?” Tanya Minjae heran, Jungkook menggeleng. “Tidak, terima kasih.”

Minjae mengangguk mengerti, lebih baik tidak memaksa Jungkook di saat seperti ini. “Bagaimana keadaan Yein?” Tanya Minjae lagi, Jungkook hanya menghela napas.

“Dia… dia mulai stabil”

“Itu saja?”

Jungkook berpaling ke arah Minjae dengan tatapan kesal, Minjae menatap Jungkook gugup. “Eh, maksudku… tentang perkembangan penyakitnya. Apakah Euisanim mengatakan sesuatu kepadamu tentang itu?” Tanya Minjae, Jungkook mengangguk.

“Mereka bilang Leukemia yang ada di tubuh Yein sudah semakin menyebar. Jika tidak segera ditangani… bisa sangat berbahaya. Yein sudah tidak menerima kemoterapi sejak 3 bulan lalu, hal itu membuat kanker yang seharusnya sudah hilang menjadi lebih parah.” Jawab Jungkook, Minjae mendesah khawatir.

“Dia akan baik-baik saja, bukan?” Tanya Minjae, Jungkook mengangkat bahu.

“Mari berharap ia akan segera sadar.” Ujar Jungkook, Minjae mengangguk setuju.

“Lebih baik, kau pulang. Kau harus pergi sekolah esok hari dan aku juga. Keundae, aku sudah membawa semua yang kuperlukan disini. Aku akan menjaga Yein, kau pulang saja.” Ujar Minjae, Jungkook menatap Minjae heran. “Jinjja? Ah, arasseo.”

Jungkook beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu ruangan. Ketika ia menyentuh daun pintu, Jungkook berpaling. “Jika ia sadar ketika aku tidak ada disini, bilang padanya bahwa aku… minta maaf.”

~~~

“Yein koma? Kau bercanda!”

Jungkook menggeleng, hal itu membuat Seokjin tertawa remeh. “Puas kau, Jeon Jungkook! Seberapa sering kau menyakitinya hingga ia bisa koma seperti itu, eoh?” Seru Seokjin, Jungkook menatap Seokjin dingin.

“Aku tidak melakukan apapun.” Jungkook meninggikan nada suaranya. “Bukan salahku ia sakit!”

“Itu salahmu! Jika kau tidak menyakitinya dan membuat hatinya terluka, kondisi Yein tidak akan seperti ini! Kau tahu, Yein menderita karena memikirkanmu! Karena dirimulah kondisi kesehatan Yein menurun! Tidak sadarkah engkau?” Seru Seokjin, Jungkook terdiam. Ia berbalik dan lari meninggalkan Seokjin, membiarkan namja itu mengejek dan mengatainya pengecut.

Jungkook duduk di Rooftop dengan perasaan campur aduk. Sesungguhnya, apa yang dikata oleh Seokjin benar. Jungkook sendiri tahu bahwa ia terlalu kasar kepada Yein, Yein pasti merasa sakit hati dan karena itulah penyakitnya kambuh.

“Tidak, ini bukan salahku!”

Jungkook menjerit, berteriak dan merutuki dirinya sendiri. Jungkook merasa kepalanya sakit, ia berbaring dan memejamkan matanya. Ingin sekali Jungkook menghancurkan semua yang ada di hadapannya, tapi itu tak akan bisa mengembalikan kondisi Yein.

“Yein-ah…” Jungkook berbisik sambil menunduk. “Kenapa kau tidak memberitahuku sejak lama? Ini bisa membahayakan dirimu.”

“Kau tidak perlu menyalahkan dirimu.”

Jungkook mendongak, mendapati bahwa Minjae kini berdiri di hadapannya. “Jangan mencampuri urusanku!”

“Aku tak bisa melihatmu seperti ini.” Ujar Minjae, Jungkook hanya diam dan menatap Minjae nanar. “Bagaimana… keadaan Yein sekarang?”

“Kau tenang saja. Ia akan baik-baik saja, biarpun ia belum sadar. Sekarang, kau harus tahu bahwa ini semua bukan salahmu.” Jawab Minjae, Jungkook menggeleng. “Ini… Ini salahku…”

Minjae menghela napas. “Kau… kau mencintai Yein, bukan?” Tanya Minjae lirih. Jungkook terdiam, ia bisa menangkap nada keberatan dan kecewa dalam perkataan Minjae itu.

“Tidak, aku tidak mencintai Yein.”

“Kau tahu, ia begitu menyayangimu…” Bisik Minjae, Jungkook berdiri dan menatap Minjae. “Lalu, apa peduliku?”

“Tidakkah kau tahu bagaimana rasanya ketika seseorang yang kita cintai membenci kita? Bukankah kau…”

GREB!

Jungkook memeluk tubuh kurus yeoja yang ada di hadapannya dan berbisik, “Aku mencintaimu, Minjae-ya. Aku akan lakukan apapun untukmu.”

“Jika kau mencintaiku, kau harus membalas perasaan Yein.” Ujar Minjae pelan, Jungkook menggeleng. “Keundae, aku tak bisa mencintai Yein. Sekalipun aku peduli padanya, bukan berarti aku mencintainya.” Bisik Jungkook, giliran Minjae yang menggeleng.

“Ia dalam bahaya, bodoh! Yein dalam bahaya…”  Bisik Minjae, Jungkook hanya diam.

“Kau tahu, aku tak bisa membencimu, tapi aku juga tak bisa mencintaimu seperti ini. Aku hanya lelah dengan semua ini, aku ingin menangis, berteriak dan melakukan apapun untuk membuat perasaanku lebih baik!” Ujar Jungkook, Minjae menghela napas dan melepas pelukan Jungkook.

“Aku tahu kau mencintaimu, begitu juga aku. Tapi aku tak ingin Yein menderita. Percayalah, hatiku akan selamanya menjadi milikmu. Sekalipun kau mencintai Yein, aku akan terus menyayangimu.” Ujar Minjae, Jungkook menatap Minjae dalam. “Kau serius?”

Minjae menjawab dengan anggukan dan senyuman. Jungkook terdiam, sudah lama ia menantikan dan merindukan senyum itu. Ia percaya pada Minjae, ia percaya bahwa Minjae akan terus mencintainya.

“Dengar, aku akan berusaha sekeras mungkin untuk… untuk mencintai Yein.” Ujar Jungkook.

“Jangan memaksakan dirimu. Aku ingin kau tulus.” Pinta Minjae, Jungkook menghela napas berat.

“Aku akan berusaha.”

~~~

“Jungkook-ah?”

Suara parau itu terdegar lagi, Jungkook mendongak dan mengerjap untuk membangunkan diri dari tidurnya. “Mwo?” Tanyanya malas. Sebelum Jungkook sadar sepenuhnya, nafasnya tercekat ketika sebuah tangan lembut menyentuh lengannya.

“Yein?”

“Jungkook-ah?”

“Yein… Yein kau sudah sadar?” Jungkook berbisik lirih, ia menatap yeoja itu dalam-dalam. Yein menggerakan kepalanya, membenarkan ucapan Jungkook. Jungkook menghela napas lega, “Chankaman, aku akan panggil euisanim.”

Jungkook beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu ruangan, tapi Yein segera mencegahnya.

“Jungkook-ah…”

Jungkook berbalik, menatap Yein. Ia melihat Yein menggeleng, Jungkook menatapnya heran. “Aku takut…”

Jungkook menghela napas, lalu ia berjalan ke arah Yein dengan senyuman tipis di bibirnya. “Tenanglah, kau akan baik-baik saja.” Bisiknya sambil menggenggam tangan Yein. Yein menggeleng, “Apa yang sesungguhnya terjadi?”

“Kau koma beberapa minggu yang lalu. Memang tak terlalu lama, tapi kami semua khawatir sekali. Kau… kau baik-baik saja, bukan?” Tanya Jungkook dengan nada khawatir, Yein mengangguk pelan. Tatapan mata Jungkook begitu menyentuh hatinya. Setidaknya, untuk pertama kalinya, Jungkook begitu peduli kepadanya.

“Oh ya, satu lagi.” Ujar Jungkook, Yein menatapnya bingung. “Kau harus menjalani kemoterapi.”

DEG!

Yein diam, lidahnya terasa kelu. “Kemoterapi?” Bisik Yein lirih, Jungkook mengangguk. Wajah Yein berubah pucat, ia segera menggeleng.

Jungkook mengernyit heran. “Aku tak mau tahu. Jika kau tidak menjalani kemoterapi, bagaimana nasibmu setelah ini? Tidakkah kau sadar bahwa nyawamu sudah di ujung tanduk?” Seru Jungkook sedikit kesal. Yein terdiam, ia khawatir dan Jungkook menyadari kekhawatiran tersebut.

“Dengar, aku tahu ini berat. Tapi, kau harus tetap menjalaninya. Aku tahu bahwa kemoterapi dapat mengambil seluruh rambutmu, tapi aku tak peduli. Ketika kau sakit, tak akan ada yang peduli pada kecantikan wajahmu. Ketika kau sakit, orang-orang hanya peduli pada nyawamu yang hampir terancam.” Ujar Jungkook, Yein menatap Jungkook dalam.

“Jika aku kehilangan seluruh rambutku… kau akan tetap menemaniku, bukan?” Tanya Yein, Jungkook mengangguk.

Ne, aku akan menemanimu. Aku, Minjae, kedua orang tuamu dan semuanya. Kami akan tetap menemanimu, kau harus tahu itu, Jeong Yein.”

~~~

“Kau dari mana saja?”

Jungkook mendongak dengan perasaan kesal, ia menatap ayahnya datar. “Bermain.”

“2 minggu kau pergi meninggalkan rumah, permainan jenis apa itu?” Seru Tuan Jeon kesal, Jungkook menatapnya sinis.

“Kau pikir aku ingin pulang ke rumah? Jika bukan karena yeoja sialanmu itu, aku tak akan pernah kembali!” Ujar Jungkook tajam, Tuan Jeon mendesah gelisah.

“Ibumu sakit dan kau masih menyebutnya ‘sialan?’ Jeon Jungkook, kau memang anak liar!” Seru Tuan Jeon, Jungkook menunjukan smirk-nya.

“Siapa yang membuatku menjadi liar, eoh?”

Pertanyaan itu begitu menusuk hati orang tua manapun, tapi Jungkook bahkan tak peduli. Tuan Jeon menatapnya geram.

“Jaga mulutmu, Jeon Jungkook!”

“Diam!”

Emosi Jungkook memuncak, matanya menatap tajam Tuan Jeon dan tangannya dikepalkan. Jungkook melangkah meninggalkan ayahnya, tapi ayahnya segera mencegahnya.

“Jangan berfikir untuk menghindar dari hukuman, Jeon Jungkook.” Ujarnya tajam, Jungkook tersenyum miring.

“Hukuman? Kau pikir, tinggal seatap denganmu bukanlah hukuman?!” Balas Jungkook dingin, ia segera masuk menuju kamarnya.

BLAM!

Pintu kamar dibanting dengan keras, Jungkook berbaring dengan perasaan kesal.

“Argh!” Jungkook mengacak rambutnya, ia sangat kacau. Jungkook membanting semua barang yang ada di hadapannya, bermaksud untuk melampiaskan kemarahannya. Kamarnya kini porak poranda, hampir sama seperti hatinya.

Jungkook melirik kearah meja. Barang-barang di atasnya sudah hancur tak terbentuk, kecuali satu, sebuah bingkai dengan foto orang yang sangat ia sayangi. Ibunya, ibu kandungnya. Jungkook menginggit bibir, menahan sakit yang teramat sangat di hatinya.

Eomma…” Ia berbisik lirih, “Mengapa hidupku harus hancur seperti ini?

~~~

“Yein-ah! Yein-ah!”

Yein berbalik dan tersenyum tipis ke arah Sujeong, Sujeong menyentuh bahunya dan terengah-engah.

Ya, apa yang terjadi?” Tanya Yein, sedikit tertawa. Sujeong menatap Yein dengan senyuman di wajahnya.

“Baiklah, pertama, aku sangat senang karena kau sudah sehat. Kedua, Jungkook ingin bicara denganmu.” Ujar Sujeong, Yein mengernyit heran. “Ah, ya, gomawo. Lalu, Jungkook? Dia ingin bicara denganku?” Tanya Yein heran, Sujeong mengangguk.

“Sudah, temui saja. Ia ada di Rooftop, seperti biasa.” Ujar Sujeong, Yein menggingit bibirnya sebentar dan mengangguk. Ia berjalan menuju ke Rooftop dengan perasaan bingung dan takut, apa yang akan Jungkook katakan padanya?

“Jungkook-ah, kau memanggilku?” Tanya Yein sambil duduk di samping Jungkook, Jungkook tersenyum tipis. Untuk beberapa waktu, mereka berdua asyik dengan pikirannya masing-masing.

“Yein-ah.” Panggil Jungkook.

“Hm?”

“Kau sudah baikan?”

Yein mengangguk sambil tersenyum tipis. “Waeyeo?” Tanyanya, Jungkook menggeleng. “Hanya bertanya.” Jawabnya singkat, Yein kembali mengangguk.

“Apa yang ingin kau bicarakan?” Tanya Yein, Jungkook menoleh dan menghela napas. “Janji tak akan marah?” Tanya Jungkook, Yein menoleh dan menahan tawa. “Kau seperti bocah saja!” Ujarnya sambil memukul pelan bahu Jungkook, Jungkook tersenyum tipis.

“Janji dulu!” Ujar Jungkook bersikeras.

Ara, ara, aku tak akan marah. Memangnya, ada apa?” Tanya Yein heran, Jungkook terdiam dan menginggit bibirnya. Ia menghela napas gugup.

“Yein-ah, aku…” Ujarnya gugup, Yein mengangkat alis dengan heran. “Hm?”

“Aku mencintaimu.”

-TBC-

Anyeong 🙂 long time no see#eaaa

Jadi, akhirnya aku kembali dengan FF ini setelah sekian lama hiatus ^^
Selain itu, aku juga mengabulkan(?) permintaan kalian : JUNGKOOK SUKA SAMA YEIN#TebarKonfeti

Oke, maafkan aku karena plot-nya gaje dan alurnya kecepetan ini, maklumlah Author abal 😛
Jadi, semoga suka. Ditunggu komen & like-nya ya 😀

Advertisements

3 thoughts on “A Complicated Love Story [Chapter 6]

Your comment is my Dream

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s