A Complicated Love Story [Chapter 5]

A Complicated Love Story 2

Dreaming Girl Present you…

Poster by flamintskle @ Poster Channel

A COMPLICATED LOVE STORY

Title A Complicated Love Story – Author Dreaming Girl – Leght Chaptered – Rating Teen – Summary Terkadang, kita harus menutupi semuanya demi kehidupan kita – Disclaimer I only own the story

Starring LOVELYZ’s Yein || BTS’s Jungkook || SONAMOO’s Minjae || BTS’s Jin

Romance – Sad – Hurt – School live – Family – Angst – Friendship – AU

“Sometimes, we have to cover it all for our live…”

Previous Story : Teaser || Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4 :

“Kau tenanglah, semua akan baik-baik saja.” Bisik Yein, ia membelai punggung Jungkook perlahan.

Kedinginan menyelimuti keduanya, Yein dan Jungkook tak berbuat apapun. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Dalam hati, Yein hanya bisa berharap semua akan baik-baik saja. Ia tahu bahwa ini salah, tapi ia tak bisa melihat orang yang dicintainya begitu menderita seperti ini.

Jungkook melepas pelukannya dan ia menatap Yein. “Gomawo…”

Yein hanya mengangguk, ia tersenyum. Jungkook berdiri, ia berbalik hendak meninggalkan Yein. “Chakaman!” Seru Yein, Jungkook menoleh dan menatap Yein datar.

“Apa… kau masih membenciku?” Tanya Yein. Air muka Jungkook berubah, ia terdiam untuk beberapa saat. “Kau akan tahu nanti. Oh ya, aku juga…” Jawab Jungkook, ia menghela napas pelan. “Minta maaf.”

~~~

“Kau teman dekat Jungkook, bukan? Aku ingin bertanya padamu, Minjae-ya.” Ujar Yein, Minjae mengangguk. “Waeyeo?”

“Tentang, eung… ibunya. Maksudku, keluarganya. Apa yang kau tahu tentang hal itu?” Tanya Yein.

Minjae mengerutkan kening, pertanyaan yang aneh. “Yah, yang kutahu bahwa keluarganya kini kacau. Kacau sekali. Ibunya meninggal, Ayahnya menikah kembali dengan yeoja lain. Dia bilang padaku bahwa ia tak mau Ayahnya menikah lagi, ia tidak merestui hubungan Ayahnya dengan yeoja itu. Lalu, ia kabur dari rumah. Tinggal di Apartement pribadi miliknya, itu saja. Selebihnya, aku tidak tahu.” Jawab Minjae panjang lebar, Yein mengangguk.

“Kenapa kau tanyakan itu?”

Yein menghela napas. “Appa menyuruhku untuk mengurusnya. Keadaannya benar-benar kacau, ia berantakan sekali. Appa bilang, ia harus berubah. Keundae, aku bahkan tak tahu apa yang harus diubah darinya.”

Ne, aku tahu. Dia memang sangat memprihatinkan. Mungkin… kau harus mengubah keadaannya? Nado molla.” Ujar Minjae, Yein mengangguk. “Mengubah keadaannya seperti apa?”

“Cobalah untuk membuatnya lebih… bahagia. Kau mengerti maksudku? Yang ia butuhkan hanya kebahagiaan. Oh ya, cobalah untuk menjauhkannya dari Seokjin jika kau tak ingin ia mendapat masalah.” Saran Minjae, Yein dia termenung.

Geurae. Aku akan kucoba, Gomawo, Minjae-ya!”

~~~

“Jungkook-ah!”

Jungkook menghentikan langkahnya dan menghela napas pelan, ia berbalik dan menatap Yein datar. “Hm?”

Terngah, Yein menghentikan langkahnya sambil berusaha untuk mengatur napasnya. “Kau… mau pulang bersama?” Tanya Yein, Jungkook menatap Yein heran. “Pulang? Bersama? Arasseo.” Jawab Jungkook, Yein tersenyum senang.

Jungkook berjalan mendahului Yein, Yein segera mengikutinya dengan riang. Jungkook melirik kearah Yein yang terlihat memasang senyum manisnya itu, ia tersenyum tipis. Tetapi, Jungkook segera memasang wajah dinginnya kembali.

“Berhentilah seperti itu. Itu membuatku merasa risih, tahu.”

Yein terdiam, ia segera menatap Jungkook dan menunduk. Yein menghela napas dan berjalan seperti biasa, mengikuti langkah Jungkook.

Jungkook sesungguhnya suka sikap riang dan bersemangat Yein, tetapi hal itu membuat hatinya sakit. Semenjak Ibunya meninggal, Jungkook tak pernah berlaku seperti itu. Selain itu, Jungkook tak pernah kuat jika harus melihat Yein bahagia seperti tadi. Yein mengingatkannya pada Ibunya, Yein sangat mirip dengan Ibunya. Matanya, hidunya, bibirnya, rambutnya, sentuhannya, ekspresinya, senyumnya dan kata-katanya membuat Jungkook seperti melihat Ibunya sendiri ketika ia melihat Yein.

Dan itu membuatnya sakit.

“Dimana rumahmu?” Tanya Yein.

“Tak jauh dari sini.” Jawab Jungkook singkat, Yein mengangguk.

“Bukankah keluargamu memiliki mobil? Kenapa harus berjalan kaki?” Tanya Yein lagi, Jungkook menghentikan langkahnya dan menatap Yein. “Bukan urusanmu.”

Yein hanya mengangguk mendengar jawaban Jungkook yang begitu singkat dan dingin. Ia sesungguhnya ia membuat Jungkook lebih ceria dan bahagia. Yein pernah mengenal Jungkook dulu, sebelum kehidupan keluarga Jungkook menjadi kacau seperti ini. Yang Yein tahu, Jungkook adalah seseorang yang sangat menyenangkan. Yein sesungguhnya sudah sangat merindukan senyuman Jungkook yang begitu manis.

Jungkook menghentikan langkahnya saat mereka hendak memasuki gerbang sebuah Apartement mewah. Yein menatap gedung Apartement itu dengan rasa penasaran dan kagum, Jungkook bisa tinggal di Apartement semewah ini?

“Jadi… ini rumahmu?” Tanya Yein, Jungkook mengangguk.

“Kau ingin pulang atau…”

“Ah, aku pulang saja.” Sela Yein, Jungkook hanya mengangguk. “Baiklah, jika itu maumu. Oh ya, terima kasih karena telah menemaniku. Sampai jumpa.” Ujar Jungkook, Yein mengangguk.

Jungkook segera masuk ke dalam Apartement tersebut, Yein hanya tersenyum tipis dan segera berjalan dengan riang menuju rumahnya.

~~~

“Kau berhasil?”

Yein menghela napas dan menunduk ketika Minjae menanyakan hal itu kepadanya. “Tidak juga, aku tak bisa membuatnya tersenyum. Setidaknya, itu target pertamaku.”

Minjae mengangguk mengerti. “Apakah kau tahu mengapa ia tak mau tersenyum?” Tanyanya lagi, Yein mendongak dan menatap Minjae kesal. “Tentu saja aku tidak tahu!”

Minjae tertawa, ia mengangguk mengerti. “Yeah, aku tahu hal itu, Yein-ah. Aku hanya bercanda.” Ujar Minjae, Yein mengangguk mengerti dan ia tersenyum manis.

Minjae menghentikan langkahnya dan menatap Yein dengan perasaan heran. Wajah Yein dan senyuman manisnya mengingatkannya kepada seseorang… dan Minjae tiba-tiba ingat siapa yang ‘pernah’ memiliki wajah tersebut.

“Jeon Ahjuma…”

Ne?”

Minjae tertegun dan menutup mulutnya, ia lalu tersenyum. “Gwaechanayeo, aku hanya… salah bicara.” Ujar Minjae beralasan, Yein mengangguk. Ia segera berjalan mendahului Minjae tanpa disadarinya, sementara Minjae hanya diam. Yein tersentak saat menyadari bahwa Minjae sudah tidak ada di sampingnya, ia segera menoleh dan menatap Minjae heran.

“Apa ada masalah?”

Minjae tersentak dan menggeleng, ia segera berlari menyusul Yein dan tersenyum. “A… anni…”

~~~

Temui aku di Rooftop siang ini, sepulang sekolah – Minjae

Jungkook merasa heran dengan surat yang ia temukan di dalam lokernya, mengapa Minjae tidak memberitahunya sekarang saja? Mengapa tidak secara langsung?

Jungkook melipat surat itu kembali dan menaruhnya ke dalam tas, ia menghela napas panjang. Sesungguhnya, ia enggan untuk menemui Minjae setelah hubungan mereka kandas. Jungkook bahkan jarang sekali bicara atau bertatap muka dengan Minjae lagi, ia masih mencintai Minjae meskipun Minjae tidak mencintainya.

Jungkook berharap, seseorang memberinya tugas dalam kelas musik agar ia tak perlu menemui Minjae. Ia tak peduli jika ia diharuskan untuk pulang hingga malam hari, selama ia tak perlu bicara dengan Minjae lagi.

Tetapi, keinginannya tidak terkabulkan. Ia bahkan diperbolehkan pulang lebih cepat dari biasanya. Maka, dengan sangat terpaksa, Jungkook melangkahkan kakinya ke Rooftop untuk menemui Minjae.

Sepuluh menit, Jungkook menunggu dan tak ada hasil sama sekali. Jungkook berharap hal itu terus terjadi, biar ia harus menunggu selama satu jam. Tetapi, sekali lagi ia harus merasa sial. Sosok Minjae akhirnya muncul juga di hadapannya.

“Beri tahu aku apa yang ingin kau katakan.” Ujar Jungkook dingin.

“Aku… ingin memberi tahumu sesuatu. Aku menyadari bahwa… bahwa Yein sangat mirip dengan, maaf, ibumu…” Ujar Minjae, mengecilkan suaranya di akhir perkataannya. Jungkook hanya diam, ia sudah menyadari hal itu.

“Aku tahu.”

Minjae mengernyit dan menatap Jungkook heran, “Ka… kau tahu? Jinjja?” Tanya Minjae tak percaya, Jungkook mengangguk. “Ada lagi yang ingin kau bicarakan?”

“Oh ya, ini tentang Yein juga… kenapa kau membencinya?” Tanya Minjae lagi, Jungkook memandang Minjae dingin. “Kau tak perlu tahu.”

“Jungkook-ah, jebal… aku sungguh ingin tahu. Maksudku, aku ingin kau berhenti menyakiti Yein…” Ujar Minjae lirih.

“Menyakitinya? Dia yang menyakitiku, bodoh! Dia yang membuat hidupku semakin menderita dan kau ingin menambah penderitaanku, eoh?! Lakukan saja, Lee Minjae!”

Minjae terdiam. “Kau menyakitinya…”

“Baik, baik! Ne, aku memang menyakitinya, kau puas? Tapi dia juga membuatku menderita, kau tahu? Jika kau memang ingin membela Yein, tak usah bicara denganku lagi!”

“Tapi, kenapa kau menyakitinya? Dia tidak pernah bermaksud untuk membuatmu menderita, Jungkook-ah! Dialah orang yang ingin membuatmu bahagia, karena itu dia mengajakmu pulang bersama! Kenapa kau begitu membencinya? Wae?” Tanya Minjae setengah berseru, Jungkook hanya diam dan menatap yeoja itu tajam.

“Kenapa kau selalu membelanya?” Tanya Jungkook pelan, air muka Minjae berubah. “Apakah kau tidak tahu bahwa ia menderita penyakit yang cukup parah?”

“Aku… aku tahu.”

“Kalau begitu, kau tahu mengapa aku selalu membelanya. Aku ingin melindunginya, aku… aku adalah sahabatnya dan aku tak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya.” Ujar Minjae pelan, Jungkook menunduk.

“Dengar, aku tahu bahwa kau dan Yein adalah sahabat… dan karena itulah aku benci kepadanya. Karena kau dan Yein bersahabat, aku harus… aku harus kehilangan dirimu. Karena kau tak ingin membuat Yein bersedih, aku harus berpisah denganmu. Aku… aku masih mencintaimu.” Ujar Jungkook, Minjae menatap Jungkook tak percaya.

“Jadi, karena akulah kau membenci Yein?” Tanya Minjae lirih, Jungkook mendongak dan ia menggeleng.

“Bukan, bukan karena itu. Tapi, karena… ah, sudahlah! Aku sudah lelah, aku tak mau membicarakan hal ini lagi. Bilang pada Yein bahwa… bahwa aku tak ingin menemuinya lagi.” Jawab Jungkook, ia segera meninggalkan Minjae sendirian.

~~~

“Nona Yein, Tuan Jeong memanggil anda di ruang kerjanya.” Seorang pelayan mendatangi Yein dan membawakan berita tersebut, Yein hanya menghela napas pelan. “Bilang pada Appa aku akan datang beberapa menit lagi.” Pinta Yein, pelayan itu mengangguk mengerti.

Tak butuh waktu lama, Yein sudah melangkahkan kakinya dengan gontai ke ruang kerja Abeoji-nya. Ia mengetuk pintu ruang kerja dan seorang pelayan membukakan pintu untuknya.

Anyeong haseyeo, Nona Yein.” Ujar pelayan tersebut sambil membungku, Yein hanya balas membungkuk dan tersenyum. Ia segera memasuki ruangan tersebut.

“Apa ada masalah?” Tanya Yein hati-hati, ia segera duduk di hadapan Tuan Jeong.

“Apakah Appa ingin membicarakan tentang Jungkook lagi?” Tanya Yein lagi, suaranya berubah mengecil. Tuan Jeong mendongak dan tersenyum tipis, ia lalu mengangguk.

“Apakah kau berhasil?”

Yein menghela napas, sedikit mendengus, saat pertanyaan tersebut dilontarkan oleh Abeoji-nya. “Tidak begitu baik. Kenapa Appa selalu menanyakan hal ini kepadaku? Kenapa harus aku? Aku sudah lelah, ia benar-benar menyebalkan! Ia bahkan tak mau membiarkan bibirnya bergerak hanya untuk tersenyum!” Keluh Yein.

Tuan Jeong menghela napas, menatap putri satu-satunya itu. “Begini, Yein-ah. Jika keadaan Jungkook tidak diselesaikan, ia akan menjadi sangat kacau. Jungkook sesungguhnya seseorang yang bisa kita andalkan untuk prestasi sekolah, tapi jika ia tak mau peduli pada apapun… semuanya akan menjadi berantakan.” Jelas Tuan Jeong, Yein memasang wajah cemberutnya.

Sihreo! Kenapa tidak mencari anak lain saja? Kenapa harus Jungkook? Atau… apakah Appa memiliki sesuatu yang harus dipenuhi pada keluarga Jungkook?” Tanya Yein menyelidiki, air muka Tuan Jeong berubah.

“Sesungguhnya… keluarga kita memiliki hutang budi yang harus dibayar kepada keluarga Jungkook.” Jelas Tuan Jeong, Yein tersentak.” Hutang budi?”

“Ceritanya cukup panjang, Yein-ah. Sekarang, kau harus membantu Appa untuk membayarnya, mengerti?” Ujar Tuan Jeong, Yein mendesah kesal. “Baik, baik. Aku akan… mencoba untuk ‘membayar’ hutang budi itu.”

~~~

Yein menghela napas lega ketika bel pulang sekolah sudah berbunyi, ia benar-benar tidak sabar menunggu waktu pulang sekolah ini. Dengan cepat, ia membereskan barang-barangnya dan berlari ke meja Jungkook.

“Jungkook-ah! Mau pulang bersama?”

Jungkook mendongak dan menatap Yein dingin, “Pulanglah.”

Ne? Ayolah, kita harus pulang bersama.” Ujar Yein bingung, Jungkook hanya diam. Ia memasukan semua barang-barangnya ke dalam tas dan menatap Yein lagi. “Jangan pernah menemuiku lagi.”

Jungkook berjalan meninggalkan Yein sendirian, Yein merasa bingung dan jujur saja… sedikit sedih.

“Apa yang kau lakukan disini?”

Yein tersentak, ia menoleh dan mendapati Seokjin kini berdiri di hadapannya. “Ah… aku… aku hanya… aku tidak melakukan apapun.” Ujar Yein beralasan, Seokjin tersenyum remeh.

“Bilang saja kau ingin mencari Jungkook.” Ujar Seokjin, Yein menggeleng cepat. “Anni!”

“Bukankah aku bilang padamu agar menjauhi Jungkook?” Tanya Seokjin, Yein terdiam. “Ne, tapi… waeyeo?” Tanya Yein balik. “Ia berbahaya.”

Yein mengernyit, menatap Seokjin bingung. “Berbahaya? Bahaya apanya?”

“Dia tidak baik untukmu.” Jawab Seokjin. “Apa maksudmu? Dia… dia baik padaku.” Kilah Yein, Seokjin menggeleng.

“Mengapa kau masih saja membelanya? Tidakkah kau tahu sudah berapa kali ia menyakitimu? Dengar, ia tidak mencintaimu! Biarpun kau mencintainya, kau mencoba untuk membuatnya lebih bahagia, ia tak akan pernah membalas semua perbuatanmu! Ia hanya mencintai Minjae dan bukan kau, Jeong Yein! Seharusnya kau tahu bahwa kau ini sudah cukup disakiti olehnya, tidakkah kau menyadarinya?” Seru Seokjin, Yein terdiam tak percaya.

“Dia tidak menyakitiku…”

“Dia menyakitimu! Apakah kau tidak sadar? Sebanyak itukah cintamu padanya sehingga kau bahkan rela dikhianati olehnya? Sadarkan dirimu, Jeong Yein! Kau bukan yeoja yang ia cintai!” Seru Seokjin terengah-engah. Air muka Yein berubah, ia terdiam dan menatap Seokjin tak percaya. “Menyingkir!”

Yein berlari meninggalkan Seokjin dengan perasaan kacau. Air matanya mengalir deras dan kepalanya terasa sakit. Tidak, Yein tidak bisa menahan semua ini. Ia tahu bahwa Jungkook tidak mencintainya, atau mungkin membencinya, tetapi Yein begitu menyayangi Jungkook.

Yein menghentikan langkahnya dan tubuhnya jatuh. Yein tak bisa menerima kenyataan ini, hatinya terasa sangat sakit.

Gwaechanayeo?”

Yein mendongak saat ia mendengar suara yang dikenalinya. Jungkook…

“Ada apa?” Tanya Jungkook pelan, ia mengulurkan tangannya dan memasang senyum tipis. Tipis sekali.

Yein terdiam, perasaannya campur aduk. Bukankah Jungkook baru saja menolak untuk menemuinya kembali?

“Pergi!” Kilah Yein. Senyum tipis di bibir Jungkook menghilang, kini tergantikan dengan tatapan bingung. Jungkook menarik uluran tangannya. “M… Mwo?”

“Pergi, Jeon Jungkook. Pergi! Pergi dari kehidupanku, jangan pernah mencampuri urusanku lagi!” Seru Yein kesal, masih dengan air mata yang mengalir di pipinya. “Ne? Apa… aku salah mendengar?”

Anio! Kau tidak salah dengar! Pergilah… hiks… tinggalkan aku sendiri.” Pinta Yein, Jungkook terdiam dan menatap Yein datar. Tanpa basa-basi lagi, Jungkook meninggalkan Yein.

~~~

Jungkook berbaring malas di ranjangnya, keningnya berkerut dan matanya menyipit ketika mengingat kejadian tadi. Yein mengusirnya? Sungguh, itu sangat aneh bagi Jungkook.

Apa yang sebenarnya terjadi padanya?

Jungkook menutup matanya dan berusaha mencerna semua perkataan Yein kepadanya. Tetapi, Jungkook bahkan tak mengerti mengapa Yein menangis tadi.

“Pergi!”

“Pergi, Jeon Jungkook. Pergi! Pergi dari kehidupanku, jangan pernah mencampuri urusanku lagi!”

Tiba-tiba, ponselnya bergetar dan membuyarkan semua lamunannya. Jungkook sedikit mendengus, meraih ponselnya.

“Ada apa?” Tanya Jungkook malas.

“Jungkook, kau harus segera datang.” Suara dari sang penelpon terdengar.

“Minjae? Chakaman, waeyeo?”

“Kau harus datang. Ini… ini tentang Yein.”

“Yein? Sudahlah, aku sedang malas berurusan dengannya.”

Anio, Jungkook-ah, kau harus datang ke rumah sakit. Sekarang!”

“Rumah sakit? Siapa yang sakit?”

Palli, Jungkook-ah! Yein… Yein membutuhkanmu!”

Mwo?! Apa yang sesungguhnya terjadi? Katakan padaku, Palli!”

“Yein… Yein, dia…”

Ne?”

“Yein koma….”

-TBC-

Anyeong 🙂

I’am back, maafkan aku karena lama meng-update FF ini ya. Aku sibuk >< Sudah cukup panjang? Kalau masih pendek, Insya Allah, di Chapter berikutnya aku panjangin.

So, aku tambahin konfliknya hehehe… maaf ya, aku tau kalau konfliknya pun kurang greget 😦 dan jangan salah sangka sama Jin karena dia nyuruh Yein meninggalkan Jungkook, dia begitu karena ada alasannya lho ^0^

Ditunggu komen & like-nya ya 😀

Advertisements

4 thoughts on “A Complicated Love Story [Chapter 5]

Your comment is my Dream

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s