A Complicated Love Story [Chapter 4]

A Complicated Love Story 2

Dreaming Girl Present you…

Poster by flamintskle @ Poster Channel

A COMPLICATED LOVE STORY

Title A Complicated Love Story – Author Dreaming Girl – Leght Chaptered – Rating Teen – Summary Terkadang, kita harus menutupi semuanya demi kehidupan kita – Disclaimer I only own the story

Starring LOVELYZ’s Yein || BTS’s Jungkook || SONAMOO’s Minjae || BTS’s Jin

Romance – Sad – Hurt – School live – Family – Angst – Friendship – AU

“Sometimes, we have to cover it all for our live…”

Previous Story : Teaser || Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 :

“Aku ingin bertanya pada Ahjussi.” Ujar Jungkook. “Kau ingin menanyakan apa?” Tanya Lee Ahjussi.

“Ahjussi menangani pasien bernama Jeong Yein, bukan?” Tanya Jungkook, pamannya hanya mengangguk. “Waeyeo?”

“Sebenarnya, dia mengidap penyakit apa?” Tanya Jungkook. Lee Ahjussi mendongak dan tersenyum, ia lalu membuka beberapa berkas miliknya.

“Dia mengidap penyakit Leukemia.”

“Jeong Yein!”

Yeoja yang dipanggil itu menoleh kearah pintu kelas yang terbuka, ia hanya diam ketika melihat Jungkook menatapnya dengan tatapan tajam.

“Eh, waeyeo?” Tanya Yein bingung. Jungkook berjalan tergesa-gesa menuju ke bangku Yein, lalu ia memukul meja yeoja itu kasar. “Ikut aku.”

Jungkook menarik lengan Yein segera dan menyeretnya paksa untuk keluar dari kelas.

Ya, Jeon Jungkook! Apa yang akan kau lakukan? Ya! Lepaskan aku, Jungkook-ah!” Seru Yein sambil berusaha menepis lengan Jungkook. Tapi cengkraman Jungkook pada tangan Yein terlalu kuat, namja itu tetap menarik lengan Yein menuju ke suatu tempat yang belum diketahui oleh Yein.

“Jungkook-ah, aw… appo… lepaskan aku!” Jerit Yein, ia melirik tangannya yang sudah mulai memerah akibat cengkraman Jungkook yang terlalu keras.

Tapi Jungkook tak peduli. Bagaikan tuli, namja itu terus menarik lengan Yein dengan wajah memerah menahan amarah. Yein terus menjerit dan mengeluh karena tangannya sudah sangat sakit sekarang, tapi Jungkook malah semakin erat mencengkram lengan Yein.

Langkah Jungkook berbelok, masuk menuju ke gudang sekolah. Dengan kasar, ia melepaskan genggaman tangannya pada Yein dan sedikit mendorongnya hingga yeoja itu jatuh tersungkur.

Jungkook menatap Yein tajam, ia berjalan mendekat dan duduk dihadapan Yein. Ia lalu menarik dagu Yein dengan kasar, berusaha untuk membuat jarak diantara mereka menjadi lebih dekat. Yein hanya bisa pasrah dan menatap Jungkook takut.

“Kau!”

“Ini semua karena dirimu! Karena dirimu aku kehilangan Minjae! Karena dirimu aku harus lebih menderita seperti ini! Tidakkah kau melihat bahwa aku sudah menderita selama ini, huh?! Jawab aku, Jeong Yein!” Seru Jungkook marah.

Yein hanya diam, ia tak mengerti maksud dari perkataan Jungkook. “A… apa maksudmu?”

“Jangan berpura-pura tidak tahu, Jeong Yein!” Seru Jungkook. Yein terdiam. Ia menunduk, tak berani menatap tatapan mata Jungkook yang seakan-akan hampir menusuk matanya itu.

“Aku sungguh tak mengerti…” Ujar Yein pelan.

“Kubilang, berhenti berpura-pura!” Kilah Jungkook. “Kau tak akan mengerti semua yang kurasakan. Kau tahu bahwa aku mencintai Minjae dan kau menghancurkan semuanya!”

Yein terdiam, ia mendongak dan menatap wajah Jungkook dalam. “Ne, aku tahu.” Ujar Yein.

“Aku tahu bahwa kau mencintai Minjae dan mengencaninya. Aku tahu bahwa kau membenci Seokjin dan kau bertengkar dengannya. Aku tahu bahwa Ayahmu menikah dengan Ibu Seokjin, tapi Seokjin tak mau menerimnya, karena itulah ia membencimu. Aku tahu Ibumu meninggal dan aku mengerti bahwa kau begitu tertekan karenanya. Aku tahu semuanya, Jungkook-ah. Jauh melebihi apa yang kau kira.” Lanjut Yein.

Jungkook terdiam, ia menarik tangannya dari dagu Yein. “Kau tak mengerti…” Ujar Jungkook lirih, Yein menggeleng. “Aku mengerti. Aku tahu semuanya, Jeon Jungkook. Aku hanya ingin agar…”

Plak!

Tangan Jungkook berhasil mendarat mulus dipipi Yein hingga pipi yeoja itu memerah. Yein terengah-engah sambil memegangi pipinya yang terasa sakit, ia kembali menatap Jungkook dalam.

“Kau kejam…” Ujarnya.

Ne, aku tahu aku kejam.” Jawab Jungkook.

“Bukan, bukan itu maksudku! Kau kejam, benar-benar kejam. Kau sangat berbeda dari Jungkook yang pernah kukenal, kau bukan Jeon Jungkook!” Seru Yein.

Plak!

Jungkook kembali melayangkan tangannya dipipi Yein. Yein hanya diam, menatap Jungkook nanar. “Kenapa kau begitu kejam padaku? Seberapa banyak kau membenciku, hah? Apa salahku padamu? Mwo?!” Tanya Yein mulai terisak.

Jungkook menyentuh pipi Yein lembut, lalu menatapnya dalam. “Aku juga tahu semuanya…” Ujar Jungkook tanpa membalas pertanyaan Yein.

“Aku tahu bahwa kau menyukaiku, aku tahu bahwa Minjae berbohong padamu dan padaku. Dan satu lagi, ini adalah yang terpenting…” Ujar Jungkook pelan. “Aku tahu bahwa kau mengidap Leukemia.”

Yein terbelalak kaget, ia tak menyangka Jungkook bisa mengetahui rahasianya. “Da… dari mana kau tahu?”

“Pamanku.”

Yein diam. Ia ingat saat ia bertemu dengan Jungkook di rumah sakit, ia ingat bahwa dokter yang menanginya adalah paman Jungkook. Jadi, Yein tak perlu heran mengapa Jungkook bisa mengetahuinya.

“Jangan beri tahu siapapun…” Pinta Yein lirih, Jungkook hanya mengangguk.

“Kau belum menjawab pertanyaanku.” Ujar Yein. “Sebarapa banyak kau membenciku, Jungkook-ah?”

Jungkook menghela napas dan kasar, ia segera berdiri dan menatap Yein dingin. “Aku sangat membencimu, Jeong Yein.”

~~~

“Dimana Yein?”

Sujeong yang ditanya oleh Minjae hanya menggeleng. “Molla, tadi Jungkook mengajaknya pergi dari kelas. Keundae, aku tidak tahu ia membawa Yein kemana.” Jawab Sujeong, Minjae hanya mengangguk.

“Oh, jadi begitu, ya… arasseo, gomawo, Sujeong-ah.” Ujar Minjae, Sujeong hanya tersenyum. Minjae segera meninggalkan Sujeong dan terus mencari Yein.

“Ini aneh, tidak biasanya Jungkook berlaku seperti ini.” Batin Minjae. Minjae terdiam, sambil terus sibuk dengan pikirannya sendiri. Namun, ia segera sadar bahwa Jungkook baru saja lewat dihadapannya.

“Jungkook-ah!”

Minjae segera menarik lengan Jungkook, Jungkook hanya diam tanpa menoleh sedikit pun. “Wae?”

“Apa kau melihat Yein? Sujeong bilang padaku bahwa kau pergi dengan Yein tadi, dimana ia sekarang?” Tanya Minjae. Jungkook menghela napas kasar dan berbalik menatap Minjae dingin.

“Kenapa kau menanyakan hal itu?” Tanya Jungkook. Minjae hanya mendengus kesal, “Aku hanya bertanya. Apakah tidak boleh? Sekarang, beri tahu aku dimana Yein.” Jawab Minjae.

“Gudang.”

Minjae hanya diam mendengar jawaban Jungkook. “K… kau… kau tidak melakukan apapun kepadanya, bukan?” Tanya Minjae, Jungkook menggeleng. Ia segera menepis lengan Minjae dan berjalan meninggalkan yeoja itu.

Minjae menghela napas pasrah, ia akhirnya memutuskan untuk pergi menemui Yein di gudang. Takut jika terjadi sesuatu pada Yein yang bisa saja membahayakan dirinya.

“Yein-ah?”

Minjae mendorong pintu gudang dan berjalan masuk. Ia segera dibuat terkejut ketika melihat Yein tengah tersungkur dilantai sambil memegangi pipinya.

“Yein-ah! Apa yang terjadi padamu?” Tanya Minjae panik, ia segera mendatangi Yein. Yein mendongak dan menatap Minjae nanar, lalu ia tersenyum. “Gwaechana.”

“Apa yang Jungkook lakukan padamu?” Tanya Minjae lagi, Yein menatap Minjae heran. “Jungkook? Ba… bagaimana kau tahu kalau aku menemui Jungkook?” Tanya Yein balik.

“Sujeong memberi tahuku tadi, tapi itu tidak penting. Sekarang, apakah Jungkook melakukan sesuatu padamu? Maksudku… pada pipimu?” Minjae menyentuh pipi Yein yang memerah.

“Ah, anio. Jungkook tidak melakukan apapun padaku.” Jawab Yein sambil tersenyum, Minjae menatapnya cemas. “Geotjimal! Pipimu memerah, Yein-ah. Apa Jungkook memukulmu? Atau kau sedang sakit?” Tanya Minjae lagi, Yein hanya menggeleng sambil tersenyum tipis.

Gwaechanayeo, Minjae-ya. Kau tidak perlu khawatir akan keadaanku sekarang, aku akan baik-baik saja.” Jawab Yein.

“Ah, arasseo. Kalau begitu, kau mau ke kelas sekarang?” Ajak Minjae, Yein mengangguk. Ia berdiri dan menatap Minjae masih dengan senyuman manisnya. Lalu, ia berjalan keluar dari gudang bersama Minjae menuju ke kelas.

Sekali lagi, Yein masih tersenyum. Tapi senyuman itu adalah senyuman yang palsu…

~~~

“Aku ingin bicara padamu.”

Pernyataan Jungkook membuat Seokjin sedikit mendengus kesal, ia segera menoleh dan menatap Jungkook datar. “Jangan bilang padaku kau ingin bicara tentang ibuku.”

Jungkook tersenyum remeh, “Oh, sayang sekali, aku ingin membicarakan tentang hal itu.” Balas Jungkook dingin, Seokjin menatapnya kesal. “Jangan membuat waktuku!”

Ara, ara. Aku tak akan membuang waktumu, tapi dengarkan aku.” Pinta Jungkook, Seokjin mengangguk. “Aku hanya ingin agar kau menerima semua yang sudah terjadi, Kim Seokjin. Aku ingin semua permasalahan ini terselesaikan, aku ingin agar kita tak perlu bertengkar lagi seperti ini, aku ingin agar…”

Brak!

Seokjin menendang pot bunga yang aa di sampingnya dengan kesal, ia menatap Jungkook dingin. “Kau sangat membuang waktuku, Jeon Jungkook…”

“Aku belum membuang waktumu, Kim Seokjin.” Bantah Jungkook. “Aku hanya ingin agar semua masalah ini berhenti. Kau tahu, aku tidak hanya memiliki masalah denganmu, tapi juga dengan orang lain! Jadi, aku ingin agar kau menerima semuanya. Apakah menurutmu aku tidak merasa terpukul saat ibuku meninggal, eoh?”

“Aku tak peduli apakah kau memiliki masalah dengan keluargamu, denganku atau dengan orang lain. Aku tak peduli! Jika kau memang ingin menghancurkan hidupku, hancurkan saja sekarang! Aku tak peduli apakah kau merasa terpukul saat ibumu meninggal, tetapi aku tak akan memaafkan ayahmu itu!” Seru Seokjin.

Terengah, Seokjin berjalan mendekat. “Kau sudah membuat hidupku kacau, Jeon Jungkook. Karena kau, aku selalu mendapat perlakuan yang tak adil dari orang lain.”

Seokjin berjalan mundur, ia menatap Jungkook tajam. “Jangan ganggu aku lagi.”

~~~

Yein mengetuk-ngetukan pensilnya di meja. Ia bosan. Pelajaran yang diberikan oleh Oh Songsaenim sudah ia baca berulang kali, salahnya membaca semua materi pelajaran yang belum diajarkan lebih dahulu.

“Oh, ayolah… kenapa lama sekali?”

Yein mendengus kesal, lebih baik ia mendapat latihan 100 soal dari Oh Songsaenim daripada harus memerhatikan papan tulis terus menerus seperti ini.

Yein dapat bernapas legas ketika bel pulang sekolah berbunyi. Dengan cepat, ia merapihkan semua buku-bukunya. Ikut berlari keluar kelas dengan murid-murid yang lain. Yein berjalan keluar kelas dengan maksud menemui Abeoji-nya di ruang kepala sekolah. Tetapi, langkahnya terhenti ketika ia berpapasan dengan Jungkook.

“Jungkook-ah?”

Jungkook hanya memandang Yein dingin tanpa menjawab pertanyaan Yein. Wajah namja itu memerah, tangannya mengepal dan ia terlihat sangat pucat. Sepertinya, ia sedang marah.

Waeyeo?” Tanya Yein hati-hati.

Minggir!”

“Apa maksudmu?” Tanya Yein lagi, Jungkook hanya menggeram. Ia berjalan meninggalkan Yein sendirian, tapi Yein segera menahan lengan Jungkook. Jungkook menoleh dan menatap Yein tajam, ia segera menepis lengan Yein dan meninggalkan yeoja itu.

Ya! Jungkook-ah!” Yein berseru, ia segera berlari mengikuti Jungkook keluar dari gerbang sekolah. Tanpa Yein sadari, Jungkook telah membawanya ke jalan raya.

Yein berhenti saat Jungkook juga berhenti. Terengah, yeoja itu meraih botol air mineralnya dan meminumnya. “Jungkook-ah, hhh… chakaman, hhh… Apa… yang akan kau lakukan?” Tanya Yein terengah-engah. Jungkook menoleh dan menatap Yein tajam, “Diam.”

Yein mendongak, menatap Jungkook cemas. “Apa yang akan kau lakukan?”

“Bukan urusanmu.”

Jungkook berjalan kembali meninggalkan Yein, tapi Yein segera meraih lengan namja itu. “Jungkook-ah… ada apa? Apa yang akan kau lakukan?” Tanya Yein lagi, Jungkook hanya menatap Yein dingin. “Lepaskan aku!”

Yein terus menggenggam lengan Jungkook erat. “Jawab pertanyaanku dulu. Apa yang akan kau lakukan?” Tanya Yein, mengulang pertanyaannya pada Jungkook.

“Oh, kau ingin mengetahui apa yang aku lakukan, hah? Baiklah, aku ingin mati, Jeong Yein! Aku ingin mati!” Jawab Jungkook geram, Yein menatapnya kaget.

“Apa maksudmu?”

“Aku sudah bilang padamu, bukan? Aku ingin mati! Aku ingin mati sekarang juga! Jadi, lepaskan aku!” Jungkook menepis lengan Yein. “Jungkook-ah, jangan lakukan hal itu!” Seru Yein, Jungkook hanya menatapnya dingin.

“Kau tidak mengerti, Jeong Yein! Aku benci terlahir seperti ini! Kau tak akan pernah mengerti perasaanku, tak akan pernah! Lebih baik aku mati jika hidupku berantakan seperti ini! Lebih baik aku…” Ucapan Jungkook terhenti, ia terengah-engah. Lututnya terasa lemas, ditatapnya wajah Yein nanar.

“Kau tak akan mengerti…” Bisik Jungkook lirih, ia jatuh terduduk. Tubuhnya terasa lemas, ia terlihat sangat kacau. Yein terdiam, menatap Jungkook khawatir. Ia segera duduk di hadapan Jungkook, menyentuh bahu Jungkook dan menggenggamnya.

“Kau harus kuat…” Suara Yein terdengar. Jungkook mendongak, menatap Yein dengan tatapan kosong. “Aku lelah, Yein-ah…”

Yein menghela napas pelan, ia menatap Jungkook dalam. “Kau tenang saja, semua akan baik-baik saja.” Bisiknya lembut, Jungkook menggeleng. “Aku lelah dengan semua ini, Yein-ah. Semua orang seperti membenciku, aku tak pernah bahagia… Aku ingin mati saja jika aku terus menderita seperti ini…”

Yein menatap Jungkook nanar. Ia mengerti prasaan Jungkook sekarang, ia tahu apa yang dirasakan Jungkook sekarang. “Aku tidak membencimu, kau tenang saja. Kau harus bertahan, demi ibumu…” Bisik Yein pelan, Jungkook terdiam.

“Jika ibumu melihatmu seperti ini, ia pasti akan sangat bersedih. Kau menyayanginya, bukan?” Tanya Yein, Jungkook mengangguk. Seketika itu juga, ia mendaratkan tubuhnya di dalam pelukan Yein.

Yein terdiam, masih belum bisa mencerna apa yang Jungkook lakukan padanya. Tanpa sadar, suara isakan-isakan kecil terdengar dari Jungkook. Yein terhenyak, Jungkook yang begitu dingin padanya kini begitu rapuh.

“Kau tenanglah, semua akan baik-baik saja.” Bisik Yein, ia membelai punggung Jungkook perlahan.

Kedinginan menyelimuti keduanya, Yein dan Jungkook tak berbuat apapun. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Dalam hati, Yein hanya bisa berharap semua akan baik-baik saja. Ia tahu bahwa ini salah, tapi ia tak bisa melihat orang yang dicintainya begitu menderita seperti ini.

-TBC-

Halo 🙂

Akhirnya, aku bisa Update FF ini juga >< maaf ya, kalau kurang panjang wkwkwk… Oke, ditunggu komen & likenya ya 😀

Advertisements

5 thoughts on “A Complicated Love Story [Chapter 4]

Your comment is my Dream

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s